Hiu Paus: Raksasa Penjaga Laut

Pelestarian hiu paus sangat krusial tidak hanya untuk kesehatan ekosistem laut, tetapi juga untuk manfaat ekonomi dan budaya.

Ilustrasi: Muid/ GBN.top

Di kedalaman laut biru, ada penjaga raksasa yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan membantu mengurangi perubahan iklim. Dialah hiu paus (Rhincodon typus), satwa terbesar di laut, yang bukan hanya sebagai keajaiban alam, tetapi juga pahlawan lingkungan.

Salah satu ciri khas hiu paus adalah kulit mereka yang tebal dan kuat, dihiasi dengan pola bintik-bintik dan garis-garis putih yang unik. Setiap hiu paus memiliki pola yang berbeda, mirip dengan sidik jari manusia, yang membuatnya mudah diidentifikasi oleh para peneliti. Perilaku yang jinak dan tenang membuat hiu paus sangat populer di kalangan wisatawan dan penyelam yang ingin melihat keanggunan mereka dari dekat.

Hiu paus dapat tumbuh hingga 18 meter dan berat mencapai 30 ton, dengan usia bisa mencapai 70 tahun atau lebih, sehingga perjalanan hidupnya sangat panjang dan penuh petualangan.  Meski berukuran raksasa, hiu paus adalah pemakan penyaring yang lembut. Mereka mengapung dengan mulut terbuka lebar, menyaring plankton, krill, dan ikan kecil dari air untuk mendapatkan makanan.

Keanekaragaman hayati laut juga sangat bergantung pada hiu paus. Dengan menjaga populasi plankton yang sehat, mereka memastikan kelangsungan hidup berbagai spesies laut, dari ikan kecil hingga predator besar. Karenanya kehadiran hiu paus adalah indikator ekosistem yang sehat dan seimbang.

Peran hiu paus dalam perubahan iklim mungkin tidak langsung terlihat, tetapi sangat signifikan. Fitoplankton yang diatur oleh hiu paus berfungsi sebagai penyerap karbon alami. Selama fotosintesis, fitoplankton menyerap karbon dioksida, dan saat mereka mati, mereka tenggelam ke dasar laut, menjebak karbon di sana. Proses ini membantu mengurangi jumlah karbon dioksida di atmosfer, yang pada gilirannya membantu mengurangi efek perubahan iklim.

Dengan menjaga ekosistem laut yang sehat, hiu paus juga membantu meningkatkan ketahanan lingkungan laut terhadap perubahan iklim. Ekosistem yang beragam dan seimbang lebih mampu beradaptasi dengan kondisi yang berubah dan lebih efektif dalam mengurangi dampak perubahan iklim.

Migrasi adalah bagian penting dari kehidupan hiu paus yang melakukan perjalanan jauh melintasi lautan, berpindah-pindah sesuai dengan ketersediaan makanan dan perubahan suhu air. Pola migrasi mereka yang luas dan misterius terus menjadi topik penelitian ilmiah yang mendalam.

Reproduksi hiu paus penuh misteri, dengan betina hiu paus melahirkan anak-anak dan mungkin membawa ratusan embrio sekaligus, menunjukkan potensi kelahiran yang luar biasa dari spesies ini.

Di Indonesia, seperti disampaikan di situs Mongabay, hasil penelitian yang dilakukan Mahardika Rizqi Himawan dan periser lainnya menyebutkan lokasi unggulan hiu paus ada di Kalimantan Timur, Probolinggo, Gorontalo, Teluk Cendrawasih Papua, dan Labuan Jambu, sekitar Teluk Saleh di Sumbawa.   

Guna menjaga dan menjamin keberadaan dan ketersediaan hiu paus di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan menetapkan Rencana Aksi Nasional Konservasi Hiu Paus (Rhincodon typus) Tahun 2021-2025.  

Peraturan itu penting karena konservasi hiu paus di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk penangkapan dan praktik tradisional yang menargetkan hewan laut besar seperti hiu paus, terutama di wilayah timur Indonesia. Selain itu, terdapat peningkatan kasus hiu paus terdampar, praktik pariwisata yang kurang bertanggung jawab, degradasi habitat, serta minimnya perlindungan terhadap habitat kritis mereka di kawasan konservasi laut (marine protected areas).  

Baru-baru ini, diadakan acara peluncuran proyek yang merupakan kolaborasi antara Pemerintah Indonesia, Pemerintah Prancis, dan Konservasi Indonesia, dengan dukungan dari Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat. Sebagai tindak lanjut kegiatan-kegiatan sebelumnya, proyek ini bertujuan untuk mengembangkan kawasan konservasi laut yang fokus pada hiu paus dan kesejahteraan masyarakat lokal di Teluk Saleh, Nusa Tenggara Barat.  

Pelestarian hiu paus sangat krusial tidak hanya untuk kesehatan ekosistem laut, tetapi juga untuk manfaat ekonomi dan budaya. Satwa ini memiliki nilai budaya signifikan di banyak daerah, yang dapat mendorong upaya konservasi yang lebih besar. Di mana pun berada, sang raksasa penjaga laut menarik wisatawan dari seluruh dunia, sehingga menciptakan peluang ekowisata berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.

Kolumnis
Pegiat Harmoni Bumi

Tentang GBN.top

Kontak Kami

  • Alamat: Jl Penjernihan I No 50, Jakarta Pusat 10210
  • Telepon: +62 21 2527839
  • Email: redaksi.gbn@gmail.com