Inspirasi Aksesori untuk Bumi

Kadang, perubahan tidak datang dari sesuatu yang megah. Ia bisa bermula dari sebuah gelang, sehelai kain halus, atau gantungan kunci, yang dipilih dengan hati serta dikenakan dengan kesadaran

Ilustrasi: Muid/GBN.top

Dalam dunia mode, sedikit sosok yang meninggalkan pengaruh sedalam Iris Apfel. Ikon fesyen yang wafat pada usia 102 tahun ini dikenal lewat kacamata bulat besar dan tumpukan aksesori yang hampir selalu menemani penampilannya.

Namun yang membuat Iris istimewa bukanlah keunikannya semata, melainkan cara ia memaknai gaya. Bagi Iris, berpakaian bukan soal mengikuti tren, melainkan cara menyatakan keberanian menjadi diri sendiri dan tentang hubungan yang panjang dengan benda-benda yang dipilih.

Jauh sebelum istilah ekonomi sirkular ramai diangkat industri fesyen, Iris sudah menjalaninya secara naluriah. Ia tidak pernah menganggap aksesori sebagai barang sekali pakai. Kalung, gelang, bros, dan kain yang ia kumpulkan selama puluhan tahun terus dirawat, dipakai ulang, dan dipadukan kembali dalam komposisi baru. Dalam dunia Iris, tidak ada yang benar-benar usang. Yang ada hanyalah kemungkinan lain untuk dibaca ulang.

Cara berpikir demikian terasa sangat relevan hari ini, ketika industri fesyen menjadi salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia. Di tengah banjir produksi dan konsumsi, Iris menunjukkan bahwa keindahan justru bisa lahir dari kesetiaan pada apa yang sudah dimiliki. Gaya bukan soal selalu memiliki yang baru, melainkan kemampuan melihat nilai dalam yang lama.

Nilai itulah yang juga dianut Inrara Sakib, desainer Indonesia di balik jenama terima kasih kemBali. Dikenal dengan perhiasan dan aksesori yang ekspresif, Inrara sejak 2019 telah membawa karyanya ke berbagai pekan mode internasional dan mendapat liputan dari media global ternama. Namun di balik tampilannya yang berani, ada pendekatan yang sangat reflektif terhadap proses dan dampak.

Kini Inrara tengah menyiapkan koleksi terbaru bertema Sumatra. Rangkaian ini dibuat dari tekstil yang diolah ulang, bukan dari bahan baru, sebagai bentuk kesadaran bahwa bumi membutuhkan lebih banyak imajinasi daripada eksploitasi. Material yang sudah ada diberi kehidupan kedua melalui desain kontemporer yang bermakna.

Lebih jauh, proses produksi koleksi ini melibatkan kerja sama dengan yayasan penyandang tuna rungu. Dengan demikian, keberlanjutan di sini tidak hanya berbicara tentang lingkungan, tetapi juga tentang inklusi dan keadilan sosial. Orang-orang yang kerap terpinggirkan justru ditempatkan sebagai bagian penting dari rantai kreasi.

Koleksi terima kasih kemBali akan tampil di New York Fashion Week, sebuah panggung yang sering menjadi barometer arah industri mode global. Di dalamnya terdapat tas rhino, tiescarf rafflesia, serta gantungan kunci personal berbentuk bunga matahari dan daun. Sebagian hasil penjualan edisi terbatas akan disumbangkan untuk penanganan banjir di Sumatra. Aksesori, dalam konteks ini, tidak lagi berhenti sebagai objek estetis, melainkan menjadi medium solidaritas.

Filosofi yang melandasi karya Inrara berangkat dari gratitude mindset. Rasa terima kasih kepada bumi dan sesama diterjemahkan menjadi desain yang penuh niat, pilihan material yang bertanggung jawab, dan cara pembuatan yang menghormati manusia.

Di sinilah ekonomi sirkular menemukan bentuknya yang paling sederhana sekaligus bermanfaat: memperpanjang usia guna. Merawat, memperbaiki, menggunakan kembali, mewariskan, dan memberi makna baru. Aksesori memiliki posisi unik dalam siklus ini. Ia tidak terikat pada ukuran tubuh atau musim. Ia bisa lintas generasi, lintas konteks, dan justru sering menjadi semakin bernilai karena menyimpan cerita.

Sebuah kalung bisa menjadi penanda perjalanan. Sebuah syal bisa mengingatkan pada seseorang. Sebuah bros bisa memanggil kembali sebuah peristiwa. Dalam dunia yang serba cepat, aksesori memberi kita kesempatan untuk melambat dan mengingat.

Iris Apfel pernah berkata, “Gaya adalah soal sikap, bukan usia.” Pada titik inilah Iris dan Inrara bertemu, bukan pada tingkat ketenaran atau skala pencapaian, melainkan pada nilai. Bahwa menjadi diri sendiri lebih penting daripada mengejar pengakuan. Bahwa benda kecil pun bisa membawa pesan besar tentang bagaimana manusia memperlakukan dunia di sekitarnya.

Kadang, perubahan tidak datang dari sesuatu yang megah. Ia bisa bermula dari sebuah gelang, sehelai kain halus, atau gantungan kunci, yang dipilih dengan hati serta dikenakan dengan kesadaran.

Kolumnis
Pegiat Harmoni Bumi

Tentang GBN.top

Kontak Kami

  • Alamat: Jl Penjernihan I No 50, Jakarta Pusat 10210
  • Telepon: +62 21 2527839
  • Email: [email protected]