Nadiem Hapus Pramuka dari Ekstrakulikuler Wajib, Wakil Ketua MPR: Sayang Sekali

Mendikbudristek Nadiem Makarim menghapus Pramuka sebagai ekstrakulikuler wajib dan hanya bersifat sukarela

Pramuka tidak lagi menjadi ekstrakulikuler wajib di sekolah dan hanya bersifat sukarela

Berbagai pihak menyayangkan keputusan Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) yang menghapus Pramuka sebagai ekstrakulikuler wajib di sekolah. Pasalnya banyak hal positif yang bisa diperoleh siswa dari kegiatan Pramuka. Salah satunya adalah pembentukan karakter diri.

Pramuka juga bisa menjadi sarana menciptakan generasi muda yang visioner. Terlebih jika dikaitkan dengan pergaulan remaja saat ini yang cenderung merusak karakter dan kepribadian para siswa.

Salah satu pihak yang menyayangkan keputusan menghapus Pramuka sebagai ekstrakulikuler wajib adalah Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid.

Melalui cuitan di akun X atau twitter pribadinya, @hnurwahid, Minggu 31 Maret 2024, pria yang biasa disapa HNW ini mengaku sejak masih sekolah dasar (SD) sudah aktif di kegiatan Pramuka.

"Sayang Sekali Kalau Ekstrakurikuler Pramuka Benar Resmi Dihapus Mas Menteri dari Kurikulum. Saya dulu aktif di Pramuka sejak usia SD (Siaga). Saya merasakan banyak sekali manfaatnya bagi pembentukan karakter positif dan alternatif kegiatan yg visioner," ujar politisi PKS ini.

Akun @LilisRusmiati12 juga menyesalkan keputusan menghapus Pramuka sebagai ekstrakulikuler wajib.

Pemilik akun menuliskan, "Kenapa jarus dihapus sii. Di sana ada dasa dharma pramuka yg menurut saya sangat bagus untk membangun karakter baik. Ada trisatya untuk cinta tanah air dan bangsa. Mgkn krna tdk pernah mengenyam pendidikaan tanah air jadinya begitu, pemikirannya araranèh kurang sesuai."

Pendapat serupa disampaikan akun @Jangkrikgengg15 yang menuliskan, "Pramuka sangat baìk utk membantu pembentukan karakter dan kemandirian.. Saya dulu aktif hingga pernah ikut terpilih sbg regu peserta Jamboree Nasional dan Jamboree Asia Pacific."

Sebelumnya Mendikbudristek Nadiem Makarim menerbitkan Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah.

Dalam aturan yang ditetapkan di Jakarta pada 25 Maret 2024 itu Pramuka ditempatkan sebagai kegiatan yang dapat dipilih dan diikuti sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat peserta didik.

Peraturan tersebut sekaligus mengganti aturan sebelumnya, yakni Permendikbud Nomor 63 Tahun 2014 yang menetapkan Pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib yang harus diikuti peserta didik di tingkat pendidikan dasar dan menengah.

Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek Anindito Aditomo, menjelaskan setiap sekolah hingga jenjang pendidikan menengah tetap wajib menyediakan Pramuka sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Namun keikutsertaannya bersifat sukarela.

“Permendikbud Ristek Nomor 12 Tahun 2024 tidak mengubah ketentuan bahwa Pramuka adalah ekstrakurikuler yang wajib disediakan sekolah. Sekolah tetap wajib menyediakan setidaknya satu kegiatan ekstrakurikuler, yaitu Pramuka,” ujar Anindito.

Terdapat beberapa jenis kegiatan ekstrakulikuler yang termuat dalam Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024, yakni:

1. Krida, seperti Kepramukaan, Latihan Kepemimpinan Siswa (LKS), Palang Merah Remaja (PMR), Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra)

2. Karya ilmiah, seperti Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), kegiatan penguasaan keilmuan dan kemampuan akademik, penelitian

3. Latihan olah-bakat atau latihan olah-minat, seperti pengembangan bakat olahraga, seni dan budaya, pecinta alam, jurnalistik, teater, teknologi informasi dan komunikasi, rekayasa

4. Keagamaan, seperti pesantren kilat, ceramah keagamaan, baca tulis Al-Qur'an, retret

5. Bentuk kegiatan lainnya.

Jurnalis GBN

Tentang GBN.top

Kontak Kami

  • Alamat: Jl Penjernihan I No 50, Jakarta Pusat 10210
  • Telepon: +62 21 2527839
  • Email: redaksi.gbn@gmail.com