Menyelamatkan Bumi Melalui Pendidikan

Pendidikan adalah kunci yang memungkinkan pelajar dari segala usia untuk mengatasi tantangan global yang saling terkait termasuk perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, penggunaan sumber daya yang tidak berkelanjutan, dan kesenjangan.

Ilustrasi: Muid/ GBN.top

Tahun 2023 adalah tahun terpanas dalam catatan. Suhu bumi rata-rata meningkat 1,48 derajat Celcius dibandingkan sebelum revolusi industri tahun 1850-1900, ketika manusia mulai menggunakan bahan bahan bakar fosil dalam kegiatannya.

Tindakan manusia yang berlebihan dalam penggunaan bahan bakar fosil, perubahan tata guna lahan serta bermacam pencemaran mengeluarkan gas-gas rumah kaca, Inilah penyebab pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim dengan konsekuensi deretan bencana.  

Meskipun krisis iklim semakin nyata, berdasarkan temuan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), sekitar setengah dari 100 negara yang dikaji tidak menyebutkan perubahan iklim dalam kurikulum nasional mereka. Sedangkan 95% guru SD dan SMP yang disurvei merasa bahwa mengajarkan perubahan iklim itu penting, namun kurang dari 30% menyatakan kesiapan untuk mengajarkannya. Selain itu, 70% anak muda tidak dapat menjelaskan perubahan iklim atau hanya bisa menjelaskan prinsip-prinsipnya yang luas atau bahkan tidak tahu apa-apa tentang itu.  

Pendidikan, masih menurut UNESCO, adalah kunci yang memungkinkan pelajar dari segala usia untuk mengatasi tantangan global yang saling terkait termasuk perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, penggunaan sumber daya yang tidak berkelanjutan, dan kesenjangan. Pendidikan adalah pemberdaya dalam membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk mengubah masyarakat dan peduli terhadap planet ini.

Titik balik dalam sejarah pendidikan lingkungan di dunia dimulai pada Konferensi Internasional tentang Pendidikan Lingkungan yang diadakan di Tbilisi, Georgia pada tahun 1977, diorganisir oleh Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) dan UNESCO. Hari Pendidikan Lingkungan Sedunia (World Environmental Education Day)  kemudian  dirayakan setiap tahun pada 26 Januari, untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang lingkungan serta tantangan yang dihadapinya. 

Bagi Indonesia, sebuah negara kepulauan dengan keanekaragaman hayati yang fenomenal, pentingnya pendidikan lingkungan tidak bisa diabaikan. Indonesia merupakan rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna yang unik, banyak di antaranya endemik dan tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Selain itu, Indonesia juga menghadapi berbagai masalah lingkungan seperti deforestasi, pencemaran, dan perubahan iklim yang memengaruhi kehidupan masyarakat dan ekosistemnya.

Pendidikan lingkungan dapat diwujudkan dalam beragam bentuk dan kegiatan. Salah satu cara adalah melalui integrasi topik lingkungan seperti perubahan iklim, keanekaragaman hayati, dan keberlanjutan ke dalam kurikulum sekolah. Mata pelajaran seperti sains, geografi, dan studi sosial menjadi media efektif untuk menyampaikan materi-materi ini.

Di luar lingkungan sekolah, program-program seperti klub lingkungan, kegiatan penanaman pohon, dan kunjungan ke taman nasional atau pusat konservasi memberikan pengalaman langsung tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Selain itu, pendidikan lingkungan juga dapat diperkaya melalui workshop dan pelatihan yang ditujukan untuk guru, pekerja profesional, dan masyarakat umum. Topik-topik seperti pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan pertanian berkelanjutan menjadi fokus utama dalam sesi-sesi ini. Era digital turut berkontribusi melalui penggunaan aplikasi, game, dan media sosial yang mendidik tentang isu lingkungan dan cara-cara berkelanjutan.

Pendidikan non-formal juga memegang peranan penting. Kegiatan belajar di luar lingkungan sekolah seperti di museum, kebun binatang, atau lembaga konservasi membuka wawasan baru. Selain itu, tersedia kursus online dan sumber daya edukasi yang kaya akan materi tentang lingkungan dan keberlanjutan.

Kampanye kesadaran publik juga tak kalah penting, di mana informasi tentang isu lingkungan spesifik disampaikan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

Keterlibatan dalam proyek penelitian lingkungan, seperti pengamatan burung atau pemantauan kualitas air, memberikan kesempatan bagi siswa dan masyarakat umum untuk terlibat langsung dalam studi lingkungan.

Pelajaran lapangan dan ekskursi ke hutan, daerah aliran sungai, atau fasilitas daur ulang memberikan pengalaman belajar yang tak terlupakan. Terakhir, simposium dan konferensi yang membahas isu lingkungan terkini menambah wawasan dan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu.

Dengan beragam metode dan kegiatan ini, pendidikan lingkungan tidak hanya menyediakan pengetahuan, tetapi juga mengembangkan keterampilan, nilai, dan motivasi untuk bertindak secara berkelanjutan dalam menyelamatkan Bumi yang kini dilanda berbagai krisis global.

 

Kolumnis
Direktur, Climate Reality Indonesia

Tentang GBN.top

Kontak Kami

  • Alamat: Jl Penjernihan I No 50, Jakarta Pusat 10210
  • Telepon: +62 21 2527839
  • Email: redaksi.gbn@gmail.com