Gus Dur Tentang Mengelola Rasa Sakit

Gus Dur mengajarkan bahwa menahan rasa sakit berarti memahami, menerima, dan mengelola perasaan dan emosi tersebut dengan bijak.

Ilustrasi: Muid/ GBN.top

"Menahan rasa sakit adalah tentang bagaimana kita mengendalikan pikiran, perasaan, dan emosi."

~ Gus Dur

Itu adalah ucapan yang Gus Dur yang dicetuskan di Korea Selatan saat ia berjalan kaki menuju rumah sakit untuk mengobati jempol tangannya yang terluka dan bersimbah darah. Begini ceritanya. Suatu hari menjelang akhir era kekuasaan Orde Baru, Kyai Haji Abdurahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur yang dikenal sebagai salah satu pejuang demokrasi di Indonesia, bertandang ke Korea Selatan untuk menggalang dukungan. Ia ke negeri gingseng tersebut bersama pejuang demokrasi yang lain yakni pasangan istri-suami Megawati Soekarnoputri dan Taufik Kiemas. Bersama mereka turut serta keponakan Gus Dur, Saifullah Yusuf.

Pada sebuah momen, sepulang dari melawat, kecelakaan kecil menimpa Gus Dur di depan lobi hotel. Tangan Gus Dur terjepit pintu dan mengalami luka yang cukup hebat pada jempolnya. Peraturan di hotel tersebut mengharuskan Gus Dur segera dibawa ke rumah sakit. Sayangnya, hotel yang mereka tempati tersebut berada di puncak bukit dan tak menyediakan kendaraan untuk mengantarnya ke rumah sakit. Maka Gus Dur bersama Megawati, Taufik Kiemas, dan Saifullah Yusuf pun terpksa harus berjalan kaki menuju rumah sakit yang ditunjuk oleh petugas hotel.

Sepanjang perjalanan, Gus Dur memegangi jempolnya erat-erat agar tak lebih banyak darah mengucur dari lukanya. Saat itu Gus Dur seolah merasakan kepanikan Saifullah Yusuf yang menuntunnya menuju rumah sakit. Untuk menentramkan hati keponakannya, Gus Dur berkata: “Ful, menahan rasa sakit itu adalah tentang bagaimana kita mengendalikan pikiran, perasaan, dan emosi."

Ucapan Gus Dur itu bermakna sangat dalam. Kalimat itu bukan sekadar nasehat untuk mengatasi rasa sakit pada fisik, melainkan lebih jauh dari itu. Kalimat tersebut mengungkapkan pentingnya kemampuan manusia untuk mengelola dan mengendalikan pengalaman negatif dalam hidup mereka. Ia merangkum konsep penting dalam pengembangan pribadi dan kebijaksanaan emosional.

Ucapan Gus Dur mengungkapkan pemahaman yang mendalam tentang kekuatan dalam menghadapi rasa sakit dan tantangan dalam hidup. Ucapan ini menyoroti pentingnya mengembangkan kemampuan mengendalikan pikiran, perasaan, dan emosi sebagai cara untuk menghadapi dan memanfaatkan pengalaman rasa sakit.

Rasa sakit merupakan bagian alami dari kehidupan manusia. Setiap orang pasti akan menghadapi kesulitan, kegagalan, kehilangan, atau tantangan yang menyakitkan pada suatu titik dalam hidup mereka. Namun, respons terhadap rasa sakit tersebut dapat bervariasi. Gus Dur menekankan bahwa menahan rasa sakit bukan berarti menekan atau mengabaikan emosi kita, tetapi justru mengendalikan mereka dengan bijak.

Ya, menahan rasa sakit tidak sama dengan menekan atau menyembunyikannya. Sebaliknya, ini berarti kita memiliki kemampuan untuk tidak membiarkan rasa sakit mengendalikan hidup kita atau membuat kita merasa terjebak dalam siklus negatif. Menahan rasa sakit adalah tentang mengembangkan kemampuan untuk menghadapinya dengan bijaksana dan memilih tanggapan yang lebih konstruktif.

Pertama-tama, Gus Dur menyoroti pentingnya mengendalikan pikiran. Pikiran adalah produk dari kesadaran, dan seringkali kita tidak dapat menghindari adanya pikiran yang negatif dan merugikan. Di situ Gus Dur mengajarkan bahwa melalui kemampuan mengendalikan pikiran, kita dapat membatasi dampak negatif yang mereka miliki. Mengendalikan pikiran berarti mampu memahami pikiran kita dan mengarahkannya ke arah yang lebih positif dan konstruktif.

Bagaimana kita bisa mengendalikan pikiran? Salah satu cara adalah melalui praktik kesadaran atau meditasi. Melalui latihan ini, kita dapat melatih pikiran kita untuk tetap fokus pada saat ini dan memperkuat kehadiran kita di sini dan sekarang. Dengan begitu, kita dapat menghindari terjebak dalam kecemasan pada apa yang akan terjadi atau penyesalan terhadap apa yang telah menimpa, yang dapat memicu rasa sakit dan kekhawatiran. Dengan memusatkan pikiran pada momen sekarang, kita dapat mengendalikan pikiran negatif dan melibatkan diri dalam kehidupan dengan lebih berkelanjutan.

Selanjutnya, Gus Dur menekankan pentingnya mengelola perasaan dan emosi. Perasaan dan emosi adalah respons internal terhadap pengalaman hidup kita, dan mereka dapat berdampak signifikan pada kualitas hidup kita dan hubungan dengan orang lain. Gus Dur mengajarkan bahwa menahan rasa sakit berarti memahami, menerima, dan mengelola perasaan dan emosi tersebut dengan bijak.

Dalam konteks itu, penting bagi kita untuk mengembangkan kesadaran emosional, yaitu kemampuan untuk mengenali dan memahami emosi kita sendiri. Dengan memperkuat kesadaran ini, kita dapat mengidentifikasi emosi yang muncul dalam diri kita dengan lebih baik. Hal ini memungkinkan kita untuk mengatasi rasa sakit dan perasaan negatif dengan lebih efektif. Sebagai contoh, jika kita merasa sedih atau marah, kita dapat mengidentifikasi emosi ini dan memahami penyebabnya. Dengan pemahaman yang lebih baik, kita dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk meredakan emosi tersebut.

Selanjutnya, penting untuk membangun keterampilan pengaturan emosi. Ini melibatkan kemampuan untuk mengelola dan mengarahkan emosi kita dengan cara yang produktif. Salah satu strategi yang berguna adalah praktik regulasi emosi, di mana kita belajar mengenali keadaan emosi yang tidak sehat dan mengadopsi strategi yang sehat untuk mengatasinya. Misalnya, jika kita merasa cemas, kita dapat menggunakan teknik pernapasan atau relaksasi untuk menenangkan diri kita.

Gus Dur juga mengajarkan pentingnya memiliki perspektif yang sehat terhadap rasa sakit. Dia menekankan bahwa rasa sakit adalah bagian tak terpisahkan dari pengalaman manusia, dan penting bagi kita untuk menerima dan mengintegrasikan mereka ke dalam kehidupan kita. Dalam konteks ini, menahan rasa sakit berarti menghadapinya dengan penerimaan dan kepala dingin, tanpa membiarkan mereka menguasai hidup kita.

Menahan rasa sakit juga mencakup kemampuan untuk memaafkan dan melepaskan. Kadang-kadang, rasa sakit yang kita alami disebabkan oleh pengkhianatan, penghinaan, atau pengalaman negatif lainnya yang melibatkan orang lain. Dalam situasi seperti ini, penting bagi kita untuk belajar memaafkan dan melepaskan agar tidak terjebak dalam kemarahan dan dendam yang merugikan diri kita sendiri. Gus Dur mengajarkan bahwa memaafkan adalah sebuah tindakan pembebasan diri yang memungkinkan kita untuk melepaskan beban emosional dan melanjutkan hidup dengan damai.

Bagaimana cara melatih diri untuk menguasai hal itu?

Untuk melatih diri dalam menguasai kemampuan mengendalikan pikiran, perasaan, dan emosi, ada beberapa langkah yang dapat diikuti.

Pertama, mulailah dengan mengembangkan kesadaran diri yang lebih dalam tentang pikiran, perasaan, dan emosi Anda. Perhatikan pola pikir negatif yang muncul dan perhatikan bagaimana emosi Anda terkait dengan pikiran tersebut. Kesadaran diri adalah langkah pertama dalam mengendalikan mereka.

Kedua, berlatih khusyu atau meditasi. Khuyu atau meditasi adalah alat yang efektif untuk mengembangkan kemampuan mengendalikan pikiran. Melalui meditasi, Anda dapat melatih pikiran Anda untuk tetap fokus dan menghindari pemikiran yang mengganggu. Mulailah dengan sesi meditasi singkat setiap hari seusai shalat atau sembahyang, dan tingkatkan secara bertahap durasi dan kualitas meditasi Anda seiring waktu.

Ketiga, latih diri Anda untuk lebih hadir di saat ini daripada terjebak dalam masa lalu atau khawatir tentang masa depan. Sadari pengalaman saat ini dengan sepenuh hati dan jangan biarkan pikiran-pikiran yang tidak perlu mengambil alih.

Keempat, pelajari teknik regulasi emosi seperti pernapasan dalam, relaksasi otot, atau visualisasi positif. Ketika Anda menghadapi emosi yang kuat, gunakan teknik-teknik ini untuk membantu Anda menenangkan diri dan mengendalikan respon emosional Anda.

Kelima, lakukan reframing yakni melatih diri untuk melihat situasi dari perspektif yang berbeda. Ubah cara Anda memandang suatu kejadian atau situasi yang menyebabkan rasa sakit. Dengan merombak cara Anda berpikir, Anda dapat mempengaruhi perasaan dan emosi yang Anda alami.

Keenam, kelola stres yang dapat mempengaruhi kemampuan kita untuk mengendalikan pikiran dan emosi. Pelajari strategi yang efektif untuk mengelola stres seperti olahraga teratur, tidur yang cukup, praktik relaksasi, atau hobi yang menyenangkan. Dengan mengelola stres dengan baik, Anda akan lebih mampu mengendalikan pikiran dan emosi Anda.

Ketujuh, memaafkan dan melepaskan. Praktikkan welas asih dan pemahaman terhadap diri sendiri dan orang lain. Belajarlah untuk memaafkan diri sendiri dan orang lain atas kesalahan atau luka yang terjadi. Melepaskan dendam dan ketidakpuasan akan membantu Anda membebaskan diri dari beban emosional yang tidak perlu.

Terakhir, dapatkan dukungan dari orang-orang terdekat Anda. Berbicaralah dengan teman, keluarga, atau profesional yang dapat membantu Anda dalam proses menguasai kemampuan ini. Dukungan sosial dapat memberikan perspektif baru dan memberikan dukungan yang diperlukan dalam perjalanan Anda.

Begitulah pelajaran penting yang dapat kita ambil dari ucapan Gus Dur tentang rahasia menahan rasa sakit. Dan, dalam kehidupan yang lebih luas, ini juga menjadi rahasia untuk menjadi kaya raya dalam pengertian yang sesungguh-sungguhnya.

Pengamat Seni dan Sosial

Tentang GBN.top

Kontak Kami

  • Alamat: Jl Penjernihan I No 50, Jakarta Pusat 10210
  • Telepon: +62 21 2527839
  • Email: redaksi.gbn@gmail.com