Jumlah korban tewas akibat gempa bumi dahsyat di Myanmar terus bertambah. Hingga Kamis 3 April 2025, jumlah korban sudah lebih dari 3.000 orang, 4.515 orang terluka dan 351 orang hilang. Kondisi cuaca juga menyulitkan petugas melakukan tindakan penyelamatan terhadap para korban.
Seperti dikutip dari Reuters, Kamis 3 April 2025, Kedutaan Besar Jepang di Myanmar menjelaskan lebih dari 1.900 petugas penyelamat dari 15 negara sudah tiba di Myanmar guna membantu proses penyelamatan dan evakuasi korban.
Sementara itu Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban, baik meninggal maupun luka-luka dalam gempa bumi dengan magnitudo 7,7 pada Jumat 28 Maret 2025.
"Sejauh ini WNI aman, alhamdulillah baik. Yang luka-luka, apalagi korban jiwa tidak ada," kata Kepala BNPB Letjen Suharyanto.
Saat memberikan keterangan di Lanud Halim Perdanakusum, Jakarta Selasa, 1 April 2025, Suharyanto mengatakan pemerintah Indonesia sudah berkoordinasi dengan pemerintah Myanmar dan Thailand terkait informasi pasca gempa.
"Tetapi dari pemerintah Myanmar yang junta militer sudah mengirimkan permintaan bantuan, sehingga itu terus disikapi oleh Kementerian Luar Negeri, berkoordinasi, dan kami bisa masuk ke sana," ujarnya.
Suharyanto menjelaskan Indonesia mengirim 73 personel satuan tugas kemanusiaan untuk membantu korban gempa di Myanmar. Anggota Satgas terdiri dari BNPB, Basarnas, TNI, Baznas, Kemenlu, Kemenkes dan sebagainya.
"Nah, hari ini memang terbanyak karena Emergency Medical Team-nya ini sekarang berangkat. 73 orang hari ini. Nah, BNPB bertugas mengoordinasi dan menyiapkan sarana-prasarana lainnya," ujar Suharyanto.
Mantan Pangdam V/ Brawijaya ini menuturkan Satgas akan bertugas selama sebulan. Berdasarkan pengalaman, pemerintah setempat setelah sebulan kondisi sudah mulai kondusif dan pemerintah setempat sudah bisa mengambil alih.
Pada Senin 31 Maret 2025, pemerintah Indonesia juga telah memberangkatkan 39 anggota Tim Aju. Menggunakan pesawat Hercules C-130J-30. Tim Aju membawa sekitar 12 ton bantuan logistik terdiri dari 20 unit tenda serbaguna, selimut, sarung, dan makanan siap saji.