Ayurveda & Jamu: Tradisi Lintas Zaman

Di tengah krisis iklim, peran ayurveda dan jamu menjadi semakin nyata, khususnya dalam menjaga warisan budaya dan kesehatan manusia maupun Planet Bumi.

Ilustrasi: Muid/GBN.top

Ayurveda dan Jamu, warisan kesehatan autentik dari India dan Indonesia, berperan penting dalam menjaga dan meningkatkan kualitas hidup manusia sejak zaman kuno.

Ayurveda, yang berusia lebih dari 3.000 tahun, dan jamu dengan sejarah tertulis selama 1.300 tahun, menawarkan lebih dari sekadar pengobatan. Keduanya merupakan panduan hidup yang seimbang dengan alam, menyediakan prinsip hidup yang harmonis dan preventif.

Ayurveda menekankan keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Menggunakan diet, herbal, latihan, meditasi, dan terapi pembersihan, ayurveda menargetkan penyembuhan yang menyeluruh dan pencegahan penyakit.

Dalam perspektif ayurveda, terdapat lima unsur dasar yang esensial dalam pengaturan proses fisiologis manusia: bumi, air, angin, api, dan ruang. Kelima unsur ini terkombinasi untuk membentuk tiga jenis energi vital atau 'dosha'. Masing-masing adalah Vata (ruang dan udara), Pitta (api dan air), dan Kapha (bumi dan air).

Setiap orang memiliki kombinasi unik dari ketiga dosha ini, namun umumnya satu di antaranya lebih menonjol dalam karakteristik individu tersebut.

Jamu adalah warisan pengobatan herbal Indonesia yang mengandalkan kekayaan alam sebagai fondasi utamanya. Dibuat dari campuran bahan-bahan alami seperti rempah-rempah dan ekstrak tumbuhan, jamu digunakan secara tradisional untuk menjaga kesehatan, mengobati beragam penyakit, menambah kebugaran dan kecantikan, serta dipercaya seimbang dengan filosofi dan kearifan lokal.

Penelitian yang dilakukan oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional dalam proyek Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja) telah menghasilkan sebuah basis data pengetahuan etnofarmakologi. Data ini mencakup 33.000 resep ramuan tradisional yang telah terbukti melalui pengalaman praktis untuk mendukung kesehatan, dan berasal dari 2.800 jenis tumbuhan berkhasiat obat.

Perubahan iklim kini menimbulkan ancaman serius terhadap keberlangsungan ayurveda dan jamu. Seperti yang saya bahas pada peringatan “Ayurveda Day” yang diselenggarakan oleh Pusat Kebudayaan India Jawaharlal Nehru di Jakarta bekerja sama dengan Yayasan Negeri Rempah, perubahan iklim mengubah pola pertumbuhan tanaman obat, memengaruhi pengetahuan turun-temurun, dan menggoyahkan ekonomi lokal yang bergantung pada pertanian tumbuhan obat.

Di India, menyusutnya keanekaragaman hayati dan kurangnya sumber daya air di Pegunungan Himalaya menyebabkan tekanan pada pertanian. Di banyak tempat, para petani beralih ke tanaman komersial dan meninggalkan budidaya tanaman herbal.

Di Indonesia, menurut artikel berjudul "Climate change impact on medicinal plants in Indonesia” yang dimuat di jurnal ilmiah Global Ecology and Conservation, lebih dari separuh populasi spesies tanaman obat akan kehilangan hingga 80% wilayah sebarannya dalam beberapa puluh tahun ke depan. Jenis tanaman obat di Papua, Jawa, dan Sulawesi diperkirakan mengalami penurunan wilayah sebaran terbesar.

Pertanyaan tentang keberlanjutan ayurveda dan jamu kini mengemuka, sehingga memerlukan tanggapan bijaksana dan adaptif.

Dalam menghadapi tantangan ini, diperlukan pendekatan proaktif yang menggabungkan praktik pertanian lestari dan kerja sama komunitas untuk mengoptimalkan kualitas tanaman obat dan sekaligus menjaga keseimbangan alam.

Edukasi publik pun menjadi vital, seperti memperkenalkan manfaat ayurveda dan jamu melalui berbagai program yang menjangkau semua lapisan masyarakat. Festival, workshop, seminar, dan kelas maupun demo masak memperkaya pengetahuan tentang bahan alami dan prinsip-prinsip kesehatan ini.

Berbagai pihak perlu mendukung upaya penelitian dan dokumentasi untuk melestarikan pengetahuan tradisional dan memahami dampak perubahan iklim terhadap tanaman obat.

Teknologi dan media sosial serta pengalaman seperti tur virtual dapat membawa dimensi baru dalam penyebaran dan pemahaman ayurveda dan jamu, serta mengundang rasa ingin tahu dan apresiasi yang lebih luas.

Ayurveda dan jamu tidak hanya merupakan peninggalan dari masa lampau, keduanya terus beradaptasi, menawarkan cara hidup yang menyelaraskan diri dengan ritme alam. Di tengah krisis iklim, peran ayurveda dan jamu menjadi semakin nyata, khususnya dalam menjaga warisan budaya dan kesehatan manusia maupun Planet Bumi.

Kolumnis
Direktur, Climate Reality Indonesia

Tentang GBN.top

Kontak Kami

  • Alamat: Jl Penjernihan I No 50, Jakarta Pusat 10210
  • Telepon: +62 21 2527839
  • Email: redaksi.gbn@gmail.com