COP28 Dubai – Navigasi Iklim Global

COP28 di Dubai merupakan momen penting untuk mengubah rencana iklim menjadi aksi ambisius dan menavigasi arah melawan krisis iklim global.

Ilustrasi: Muid/GBN.top

Kota Dubai di Uni Emirat Arab kini ramai oleh puluhan ribu pendatang dari hampir 200 negara di dunia. Mereka berkumpul di Expo City untuk COP28 - Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim.

Ini adalah pertemuan skala besar tahunan tingkat pemerintahan yang fokus pada aksi iklim. Acara ini juga dikenal sebagai Conference of Parties/COP – Konferensi Para Pihak dalam United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC - Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim.

COP28 diselenggarakan pada 30 November – 12 Desember. Tahun ini merupakan tahun terpanas dalam catatan, sementara delapan tahun terakhir adalah delapan tahun terpanas secara global, didorong oleh peningkatan konsentrasi gas rumah kaca dan panas yang terakumulasi. Keadaan ini membawa dampak luar biasa pada kehidupan dan penghidupan manusia di seluruh dunia.

Disamping merupakan konferensi politik, COP juga merupakan perhelatan besar terkait perubahan iklim dengan ribuan kegiatan, meliputi negosiasi utama, acara sampingan, acara paralel, pameran, dan paviliun berbagai negara. Karenanya lebih dari 70.000 orang diperkirakan menghadiri COP28, termasuk delegasi dari negara anggota UNFCCC, pemimpin perusahaan dan industri, lembaga swadaya masyarakat, aktivis muda, perwakilan perempuan, komunitas adat, jurnalis, dan pemangku kepentingan lainnya.

COP28 menjadi penting karena sejak adopsi Persetujuan Paris tentang perubahan iklim yang disepakati di COP21 pada tahun 2015, konferensi-konferensi berikutnya fokus pada implementasi 3 tujuan utamanya. Pertama, menghentikan kenaikan suhu rata-rata global menjadi jauh di bawah 2°C dan berupaya membatasi kenaikan menjadi 1,5°C di atas level pra-industri (mitigasi). Kedua, meningkatkan ketahanan terhadap dampak iklim yang sebagian besar tidak dapat dihindari karena pancaran gas rumah kaca akibat kegiatan manusia (adaptasi). Ketiga, menyelaraskan arus keuangan dunia dengan dua tujuan sebelumnya (pendanaan).

Salah satu fokus utama COP28 adalah “Global Stocktake” pertama, yaitu sebuah proses bagi negara-negara dan pemangku kepentingan untuk setiap 5 tahun melihat kemajuan yang dicapai secara kolektif dalam mencapai tujuan Persetujuan Paris, dari sisi mitigasi, adaptasi, dan pendanaan iklim. Setelah “Global Stocktake,” negara-negara memiliki waktu dua tahun untuk menguraikan rencana mereka dalam menangani krisis iklim secara lebih ambisius.

Aksi iklim yang lebih ambisius dan dipercepat, menurut Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres antara lain meliputi pengurangan emisi gas rumah kaca pemicu perubahan iklim sebesar 45 persen pada tahun 2030 dibandingkan dengan tingkat tahun 2010 dan mencapai emisi bersih nol global pada tahun 2050. Selain itu perlu transisi "adil dan setara" dari bahan bakar fosil (minyak dan gas) ke sumber energi terbarukan. Juga diperlukan peningkatan investasi dalam adaptasi dan ketahanan terhadap gangguan iklim.

Hal penting lainnya adalah memenuhi komitmen keuangan dalam mendukung negara berkembang, mengamankan $100 miliar dalam keuangan iklim setiap tahun dan mengoperasionalkan dana kerugian dan kerusakan (loss and damage), yang disepakati tahun lalu di COP27 di Sharm El-Sheikh. Mesir, serta memberikan keadilan iklim.

Dengan banyaknya hal yang harus disepakati, COP28 di Dubai merupakan momen penting untuk mengubah rencana iklim menjadi aksi ambisius dan menavigasi arah melawan krisis iklim global. Seperti yang tercatat di beberapa laporan PBB, negara-negara di dunia tidak dalam jalur yang tepat untuk memenuhi tujuan Persetujuan Paris, tetapi harapannya adalah para pengambil keputusan akan merumuskan peta jalan untuk mempercepat aksi iklim.

Dr. Sultan al-Jaber, Menteri Industri dan Teknologi Tinggi untuk UEA, menjadi Presiden COP28  yang memimpin negosiasi di COP28. Negara tuan rumah telah menyatakan fokus utamanya pada perubahan di empat area kunci, yaitu mempercepat transisi energi dan mengurangi emisi sebelum tahun 2030; dan mengubah keuangan iklim, dengan memenuhi janji lama dan menetapkan kerangka kerja untuk kesepakatan baru. Juga menempatkan alam, manusia, kehidupan, dan mata pencaharian di pusat aksi iklim; serta mobilisasi untuk COP yang paling inklusif.

Sementara itu Simon Stiell, Sekretaris Eksekutif UNFCCC, mengatakan, “Lebih dari 160 pemimpin dunia akan berada Dubai. Namun COP28 tidak boleh sekadar acara berfoto. Ketika meninggalkan Dubai setelah pembukaan mereka harus memberikan pesan yang jelas kepada para negosiator masing-masing negara: jangan pulang tanpa kesepakatan yang akan membuat perbedaan nyata.”

Secara harfiah, kesehatan planet Bumi dan kesejahteraan umat manusia dipertaruhkan di COP28 Dubai.

Kolumnis
Direktur, Climate Reality Indonesia

Tentang GBN.top

Kontak Kami

  • Alamat: Jl Penjernihan I No 50, Jakarta Pusat 10210
  • Telepon: +62 21 2527839
  • Email: redaksi.gbn@gmail.com