Istilah "hilirisasi" terlalu fokus pada bahan tambang/mineral.
Dalam makna yang luas, hilirisasi adalah mengolah, memberi nilai tambah, menapis/ekstrak ilmu pengetahuan (knowledge) darinya.
Itu sebenarnya juga berlaku untuk sumberdaya hayati kita: flora dan fauna; lumut, jamur, serangga; dari pohon dan hewan besar hingga jamur dan jasad renik; di darat maupun di laut.
Alam punya fungsi ekologis: menghasilkan udara dan air bersih; menyerap karbon; mencegah banjir dan longsor.
Tapi, lebih dari itu, alam juga ilmu pengetahuan: mekanika, aerodinamika, biokimia, mikrobiologi dst.
Dan ilmu pengetahuan adalah fondasi ekonomi penting dalam produksi pangan, obat, kosmetika dan biomateral yang akan terus dibutuhkan manusia.
Menurutku, masa depan Indonesia semestinya disandarkan di situ: melestarikan keragaman hayati dan menggerakkan ekonomi darinya.
Kekayaan terbesar kita bukan tambang emas, batubara atau nikel (yang di mana-mana memicu kerusakan alam dan konflik), tapi sumber daya hayati yang sangat beragam (tak cuma sawit).