Diiringi gema musik, layar besar IMAX memunculkan kata-kata: Prometheus stole fire from the Gods and gave it to humans and he was chained to a rock for eternity - Prometheus mencuri api dari para Dewa dan memberikannya kepada manusia dan dia dirantai ke batu untuk selama-lamanya.
Kalimat pembuka film Oppenheimer, karya sutradara ternama Christopher Nolan, dapat dikatakan merupakan esensi kehidupan Julius Robert Oppenheimer, ahli fisika teoretis Amerika, seorang pemikir cepat yang berotak tajam.
Film berkisah tentang perjalanan ilmiah dan pengembaraan moral Oppenheimer ketika merekrut dan memimpin tim ilmuwan dan ribuan orang lainnya melalui Manhattan Project di Los Alamos, New Mexico. Ia berperan besar dalam merancang bom atom serta sukses dengan uji coba senjata nuklir pertama di dunia, sehingga dikenal sebagai father of atomic bomb – bapak bom atom.
Cerita berlanjut dengan apa yang dialami Oppenheimer sesudahnya, seorang yang bangga telah mengabdi pada negaranya tetapi menyesali kehancuran yang ditimbulkan akibat bom Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945 dengan ratusan ribu korban fisik dan mental.
Selain sebagai sinema blockbuster yang mendebarkan, Oppenheimer juga menjadi pokok pembahasan para pemerhati krisis iklim. Peter McKillop pendiri Climate & Capital Media menulis bahwa J. Robert Oppenheimer paling paham tentang bahaya ancaman eksistensial global, dan bahwa penemuan manusia dapat memusnahkan umat manusia itu sendiri.
McKillop mengutip pesan Oppenheimer: “Senjata atom adalah bahaya yang memengaruhi semua orang di dunia, dan karenanya merupakan masalah umum. Untuk menangani masalah bersama ini, harus ada rasa tanggung jawab masyarakat yang utuh.” Oppenheimer, tambahnya, tidak pernah sukses dalam menerapkan respons global kolektif untuk perdamaian abadi, karenanya ia sangat menderita selama sisa hidupnya.
Brendan Montague, editor media The Ecologist merekomendasikan film Oppenheimer sebagai film anti nuklir terkuat dekade ini. Ia mengutip kata-kata Chris Nolan ketika merilis film tersebut: "Sebagai anak muda yang mudah dipengaruhi, ketika kami berusia 12 atau 13 tahun, kami yakin akan mati dalam bencana nuklir. Saya sangat memikirkan perasaan anak-anak saat ini tentang perubahan iklim.”
Ketika film berdurasi tiga jam itu hampir selesai, Montague terisak-isak. Bukan karena kagum atau putus asa, tetapi karena merasa diperbarui dengan keyakinan bahwa ada pekerjaan serius yang harus dilakukan dalam menghadapi tantangan krisis iklim.
Dikelilingi maha bintang seperti Matt Damon, Robert Downey Jr., Rami Malek, Emily Blunt dan Florence Pugh, aktor utama Cillian Murphy sukses memerankan dilema yang dihadapi Oppenheimer. Juga bagaimana seseorang yang dielu-elukan kemudian runtuh kredibilitasnya karena menjadi korban politik akibat ketertarikannya terhadap komunisme.
Mendapat kesempatan menyaksikan pemutaran perdana Oppenheimer atas undangan Universal Pictures International di Indonesia, saya sangat takjub atas karya Nolan. Ia memadukan berbagai dimensi ilmu pengetahuan, teknologi, sejarah, seni dan drama dalam pertunjukan yang sering mendebarkan, kadang mengharukan, namun sekaligus memeras otak karena jalan ceritanya yang tidak linier.
Sesudahnya, saya termenung memikirkan Prometheus yang dalam mitologi Yunani dikenal sebagai penipu ulung, dan dewa api. Berharap nasib Prometheus tidak relevan dengan konsekuensi penggunaan kemajuan ilmu dan teknologi terkait krisis iklim.
Menurut Future Market Insight, pasar teknologi iklim global diproyeksikan mencapai US$182,54 miliar pada tahun 2033, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 24,5%. Ini merupakan kenaikan yang cukup besar dari nilai tahun 2023 sebesar US$ 20,34 miliar.
Pasar yang berkembang pesat ini didorong oleh beberapa faktor, antara lain meningkatnya kesadaran global akan perubahan iklim, peraturan dan kebijakan pemerintah, tujuan keberlanjutan (sustainability) sektor swasta, dan kemajuan teknologi yang luar biasa.
Belajar dari nilai dilema moral J. Robert Oppenheimer, dalam upaya manusia mengatasi krisis iklim jangan sampai ada yang harus mengulangi ucapannya saat merenungkan kembali uji coba pertama bom atom tahun 1945. Menyitir Kitab Bhagawadgita, Oppenheimer berkata perlahan: “Now I am become Death, the destroyer of worlds- Sekarang saya menjadi Kematian, penghancur dunia.”