Sejarah Pergolakan Politik Transaksional akan Berulang

Ada ungkapan "Tidak ada kawan atau lawan abadi dalam politik, yang ada cuma kepentingan". Kebenaran ungkapan klise politik oportunistik itu akan dipertontonkan Jokowi dan Prabowo.

Ilustrasi: Muid/GBN.top

Pemilu 1997, Harmoko bilang rakyat "menghendaki" Soeharto tetap jadi presiden. Dan Golkar sebagai pengusung Soeharto menang 75 persen. Namun Setahun kemudian Soeharto terjungkal dari kekuasaan, karena korupsi, kolusi, nepotisme.

Pemilu 2024. Koalisi curang Jokowi-Prabowo menang 56% (hasil quick count). Apakah koalisi ini bisa bertahan setahun dengan segala kecurangan dan keculasannya. Dalam sejarah politik kecurangan, pemenang akan terjungkal karena konflik internal rebutan kekuasaan, konsekuensi dari politik curang transaksional.

Ada ungkapan "tidak ada kawan atau lawan abadi dalam politik, yang ada cuma kepentingan". Kebenaran ungkapan klise politik oportunistik itu akan dipertontonkan Jokowi dan Prabowo.

Rasanya baru kemarin dua politikus itu berseteru pada Pilpres 2014 dan 2019. Perseteruan sengit yang membelah rakyat Indonesia menjadi dua kubu, cebong dan kampret (lalu kadrun).

Kini dua mantan-musuh itu bersatu, bahu-membahu untuk satu kepentingan: melanjutkan kekuasaan.

Pertanyaannya, siapa sebenarnya pemegang kendali persekongkolan politik Prabowo -Jokowi ini? Berikut tiga skenario, soal siapa pemegang kendali, dan kemungkinan yang akan terjadi:

Jokowi pegang kendali: Selama proses pembentukan koalisi partai-partai pengusung capres-cawapres, hingga keputusan calon jadi, Jokowi jelas memegang kendali.

Dengan popularitas dan otoritasnya, termasuk menggunakan taktik politik sandera, yang dikenal dengan istilah "politik sprindik" (surat perintah penyidikan, kasus korupsi yang membelit sejumlah menterinya), Jokowi berhasil mengendalikan Prabowo dan parpol-parpol Koalisi Indonesia Maju, untuk mengikuti apapun kemauan politiknya.

Termasuk patuh dan tunduk untuk mengusung Gibran Rakabuming sebagai cawapres, dengan membajak Mahkamah Konstitusi. Jokowi akan terus memegang kendali dan cawe-cawe selama masa kampanye, sampai pengumuman siapa pemenang Pilpres 

Prabowo pegang kendali: Setelah pemenang Pilpres diumumkan, dan Prabowo menang, terpilih sebagai presiden, maka saat itu juga Prabowo mengambil alih kendali.

Semua mata, telinga, dan perhatian akan fokus pada Prabowo, politikus sibuk cari muka pada Prabowo agar mendapat posisi, menjadi menteri, dan jabatan lain. "Jokowi who? Siapa Jokowi?"

Jokowi berangsur-angsur akan obscure, samar, kurang mendapat perhatian. Bagaimana pula nasib legasinya, kelanjutan proyek infrastruktur, termasuk proyek IKN Nusantara? Tergantung mood-nya Prabowo yang volatile dan emosional.

Yang jelas, langkah pertama yang akan dilakukan Prabowo adalah menyingkirkan bayang-bayang Jokowi, dan orang-orangnya, agar ia tidak sekadar menjadi presiden boneka Jokowi.

Bagaimana dengan Wakil Presiden Gibran, apakah bisa berperan? Tentu, sejauh Prabowo mau memberinya peran. Mirip-mirip "peran" non-peran Wapres Maruf Amin di era Jokowi.

Tapi, tentu Jokowi-Gibran, tidak akan membiarkan disingkirkan begitu saja oleh Prabowo dan orang-orangnya. Dan pertarungan internal Jokowi vs Prabowo akan berkecamuk. Mereka akan saling tikam, konsekuensi dari koalisi transaksional.

L’histoire se tépète, sejarah selalu berulang.

Pemimpin Redaksi
Jurnalis Senior, Kolumnis

Tentang GBN.top

Kontak Kami

  • Alamat: Jl Penjernihan I No 50, Jakarta Pusat 10210
  • Telepon: +62 21 2527839
  • Email: redaksi.gbn@gmail.com