Berjalan kaki kerap dipahami sebagai aktivitas biasa untuk berpindah dari satu titik ke titik lain. Namun ketika ritmenya diperlambat dan niatnya dimurnikan, berjalan dapat menjadi spiritual walking (berjalan dengan kesadaran batin). Langkah demi langkah membuka ruang hening, tempat tubuh, batin, dan semesta saling menyapa.
Dalam berbagai tradisi, ikhtiar itu hadir dengan rupa berbeda, tetapi berangkat dari kerinduan yang sama, yaitu semakin dekat dengan Sang Pencipta serta lebih peduli pada alam dan sesama.
Dalam Islam, Al Qur’an mengajak manusia untuk berjalan di muka bumi, sīrū fī al-arḍ, bukan sekadar bergerak secara fisik, melainkan merenungi ciptaan, sejarah, dan pelajaran hidup. Berjalan menjadi cara belajar yang melibatkan tubuh, akal, dan iman secara utuh.
Makna ini terwujud secara nyata dalam ibadah haji dan umrah yang setiap tahun dijalani hingga dua puluh juta orang. Thawaf, dengan gerak melingkar mengelilingi Ka’bah,
merepresentasikan hidup seorang Muslim yang berpusat hanya kepada Allah.
Ritual ini melatih orientasi batin, menata arah hidup, meredam ego, dan menyelaraskan diri dengan ritme yang melampaui kepentingan pribadi. Dari situ, perjalanan berlanjut ke sa’i antara Safa dan Marwah, mengenang ikhtiar Siti Hajar yang berjalan bolak balik mencari air bagi bayinya di tengah keterbatasan. Langkah tersebut menjadi metafora iman yang diwujudkan melalui usaha sepenuh daya sebelum berserah kepada Yang Maha Kuasa.
Dalam keseharian, berjalan dengan niat dipahami sebagai bagian dari ibadah. Waktu dan jarak tidak lagi netral, melainkan ruang kehadiran. Iman tidak berhenti pada ucapan, tetapi dijalani melalui tubuh yang bergerak dan hadir di tengah ciptaan.
Gaung serupa ditemukan dalam tradisi peziarahan Eropa melalui Camino de Santiago, jejaring jalur lintas negara yang bermuara di Katedral Santiago de Compostela di Galicia, Spanyol. Setiap tahun sekitar setengah juta orang menempuh jalur ini, banyak di antaranya memulai perjalanan dari tempat tinggal masing masing. Film The Way yang dibintangi Martin Sheen menjadikan Camino sangat populer di Amerika Serikat, sebagai ruang refleksi bersama, tempat orang dari latar budaya dan iman berbeda berjalan berdampingan, memproses kehilangan, dan menemukan makna melalui perjalanan yang hening.
Di agama Buddha berjalan bahkan menjadi bagian dari meditasi. Meditasi berjalan melatih perhatian penuh pada setiap gerak, mengangkat kaki, melangkah, menapak, dan bernapas. Praktik ini, bersama tradisi pradaksina mengelilingi stupa atau tempat suci, dijalani oleh jutaan umat di berbagai negara Asia setiap tahun. Di Candi Borobudur, langkah langkah melingkar menyimbolkan perjalanan batin dari dunia hasrat menuju kejernihan dan kebijaksanaan.
Dalam Hindu, spiritual walking juga hadir melalui pradaksina, mengelilingi pura, gunung, atau sungai suci sebagai pengakuan atas keteraturan kosmis. Di India, Nepal, dan Bali, praktik ini melibatkan juga jutaan umat setiap tahun, baik dalam perjalanan besar maupun ritual lokal. Tanpa alas kaki, peziarah merasakan langsung tanah yang dipijak, menegaskan bahwa alam bukan sekadar latar ibadah, melainkan bagian dari kesucian itu sendiri. Sementara itu, dalam tradisi Konghucu, gerak berjalan yang tertib dalam ritual dan ziarah leluhur melatih keselarasan antara niat batin dan tindakan lahir, serta menumbuhkan tanggung jawab moral dalam kehidupan bersama.
Jika ditarik benang merahnya, berbagai cara spiritual walking mengajarkan satu hal penting, yaitu melambat dengan sadar. Melambat bukan berarti berhenti bergerak, melainkan memilih hadir sepenuhnya. Ketika langkah disadari, indera terbuka pada semesta, pada tanah yang dipijak, udara yang dihirup, air yang menopang kehidupan, dan cahaya yang memberi arah. Dari kesadaran inilah tumbuh rasa hormat pada ciptaan, bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai bagian dari jejaring kehidupan.
Pada akhirnya, berjalan dengan kesadaran batin menegaskan bahwa iman menjelma dalam sikap hidup. Menghormati sang Pencipta berarti menjaga ciptaan. Dan di tengah krisis lingkungan yang dihadapi dunia hari ini, mungkin langkah awal dan paling mungkin untuk merawat bumi adalah belajar kembali berjalan dengan sadar di bumi tempat kita hidup.



