Neuroteknologi merujuk pada berbagai teknologi yang dirancang untuk merekam, menganalisis, memengaruhi, atau memodifikasi aktivitas otak dan sistem saraf manusia. Bentuknya beragam, mulai dari elektroensefalografi yang merekam gelombang listrik otak, teknologi penghubung otak dan komputer yang menerjemahkan sinyal saraf menjadi perintah, hingga neurofeedback (umpan balik aktivitas otak) dan implan saraf untuk terapi medis.
Pada awalnya, neuroteknologi dikembangkan untuk kepentingan kesehatan. Namun dalam satu dekade terakhir, mulai merambah ranah non-medis, seperti pendidikan, dunia kerja, hiburan, bahkan produk konsumen, meski sebagian besar masih dalam tahap eksperimental.
Perkembangan inilah yang menjadi fokus buku Neurorights: A Journey Toward Protecting What Makes Us Human karya baru Rafael Yuste, profesor neurosains dan biologi sekaligus Direktur Pusat Neuroteknologi di Columbia University, Amerika Serikat. Ia dikenal luas sebagai salah satu penggagas utama BRAIN Initiative, proyek riset otak berskala nasional yang diluncurkan pada masa pemerintahan Barack Obama dan kemudian memengaruhi arah penelitian neurosains di banyak negara.
Buku ini bukan uraian teknis tentang cara kerja otak, melainkan refleksi seorang ilmuwan yang menyadari bahwa kemampuan teknologi untuk mengakses aktivitas otak berkembang jauh lebih cepat daripada perlindungan etik dan hukum bagi manusia. Yuste menuturkan perjalanannya dari laboratorium, Gedung Putih, hingga forum Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan menunjukkan bagaimana neuroteknologi dapat membawa manfaat besar sekaligus risiko serius bila dibiarkan tanpa batas.
Argumen kunci Yuste sederhana namun mendasar: data otak tidak sama dengan data digital biasa. Aktivitas saraf berkaitan langsung dengan identitas diri, kontinuitas kepribadian, kehendak bebas, dan pengalaman subjektif manusia. Karena itu, ia mengusulkan seperangkat hak baru yang disebut neurorights (hak neuro). Hak-hak ini mencakup privasi mental (agar aktivitas otak tidak didekode tanpa persetujuan dalam keadaan sadar), perlindungan identitas mental, kebebasan mengambil keputusan, serta akses yang adil terhadap teknologi peningkat kemampuan kognitif agar tidak melahirkan ketimpangan sosial baru.
Gagasan tersebut bukan sekadar wacana akademik. Chile telah memasukkan perlindungan aktivitas otak ke dalam konstitusinya. Di Amerika Serikat, sejumlah negara bagian mulai mengesahkan undang-undang perlindungan data otak. Di tingkat global, neurorights masuk dalam diskusi Perserikatan Bangsa-Bangsa meski belum menjadi kerangka hukum internasional.
Sekilas, pembahasan neuroteknologi tampak jauh dari isu lingkungan atau krisis iklim. Namun jika ditempatkan dalam kerangka keberlanjutan, keterkaitannya justru sangat kuat, karena menyentuh keadilan, tata kelola, dan ketahanan manusia.
Pertama, keadilan dalam just transition. Transisi energi menuju ekonomi rendah karbon melahirkan beragam green jobs: pertambangan mineral kritis, manufaktur baterai, logistik, hingga konstruksi infrastruktur energi terbarukan. Di banyak sektor, ada penggunaan perangkat yang dikenakan di tubuh untuk memantau keselamatan kerja. Persoalan muncul ketika pemantauan ini berpotensi meluas dari keselamatan fisik ke pengawasan atensi, stres, bahkan aktivitas saraf. Tanpa perlindungan neurorights, transisi hijau berisiko melahirkan bentuk baru ketimpangan, yaitu ketika efisiensi dan produktivitas mengalahkan martabat serta kebebasan manusia.
Kedua, ketahanan psikologis di tengah krisis iklim. Perubahan iklim memicu kecemasan, kelelahan empatik, dan keletihan batin, terutama pada aktivis dan komunitas terdampak.
Neuroteknologi menawarkan kemungkinan terapi baru, dengan tingkat bukti dan efektivitas yang masih beragam. Tanpa etika yang kuat, teknologi ini berisiko berubah menjadi pasar “solusi cepat” yang mengindividualkan masalah struktural. Perlindungan atas ranah mental menjadi penting agar intervensi teknologi tetap menghormati persetujuan, martabat, dan keutuhan diri manusia.
Ketiga, jejak material neuroteknologi itu sendiri. Di balik kesan abstraknya, neuroteknologi bergantung pada sensor, baterai, mineral, pusat data, dan konsumsi energi. Semua ini memiliki dampak lingkungan dan potensi limbah elektronik. Karena itu, diskusi neurorights perlu berjalan seiring dengan inovasi bertanggung jawab, dan berdampak rendah bagi bumi.
Melalui gagasan neurorights, Profesor Rafael Yuste mengingatkan bahwa kemajuan teknologi perlu dibarengi dengan perlindungan atas ranah mental dan martabat manusia. Dalam konteks krisis iklim dan percepatan teknologi, keberlanjutan tidak hanya soal menjaga alam, tetapi juga menjaga ruang batin yang memungkinkan manusia tetap memiliki empati, refleksi dan kebebasan dalam mengambil keputusan.



